Pengembangan Diri Mahasiswa: Dari Culun Jadi Percaya Diri

 "Awal perkuliahan semester 4 dimulai, semua mahasiswa yang hadir sangat antusias. Apalagi semester ini sudah separuh perjalanan dari perjuangan menggapai status sarjana. Tiba-tiba sang dosen masuk dan melemparkan pertanyaan yang tidak biasa. Bahkan banyak yang mengira, pertanyaan tersebut konyol tidak ada hubungannya dengan perkuliahan semester ini".

Pengembangan Diri Mahasiswa

"Siapa diantara kalian yang sudah memiliki paspor?". Semua mahasiswa saling bertatapan, sambil sesekali memperhatikan adakah yang mengangkat tangan. Suasana perkuliahan tampak hening. Sekitar 50 mahasiswa tersebut benar-benar bingung, hingga pertanyaan tersebut kembali diulang.

"Siapa diantara kalian yang sudah memiliki paspor?" tanya dosen mata kuliah Teknologi Informasi untuk kedua kalinya. Dan kembali sama. Tak satu pun ternyata mahasiswa di kelas tersebut mengangkat tangannya. Baik lah. Untuk kali ini, tugas pertama yang saya berikan adalah membuat paspor. Silahkan menunjukkan paspor tersebut di akhir semester.

Awal Tantangan Pengembangan Diri Mahasiswa Dimulai

Kebayang nggak sih, kala itu tahun 2006 dengan keterbatasan informasi dan hanya mengandalkan internet dari warnet dan informasi simpang siur yang lebih banyak 'katanya' dibanding 'pastinya' mendapatkan tugas untuk membuat paspor. Membayangkannya saja, sudah was was. Mending saya disuruh untuk membuat laporan praktikum 1 minggu 1 laporan sepanjang semester dibandingkan harus membuat paspor yang belum jelas gimana persyaratannya dan bagaimana cara buatnya.

Tetapi, bukan mahasiswa jika hanya berpangku tangan dan tinggal diam. Seperti biasa, di tempat tongkrongan kampus Tembalang, kami mulai menyusun rencana. Mulai menggali lebih mendalam, apakah diantara orang tua angkatan kami ada yang sudah memiliki paspor atau tidak. Selain itu juga mencari informasi, apakah ada orang tua atau sanak famili dari angkatan kami yang kerja di lembaga yang ngurusin paspor.

Maklum, kala itu kami benar-benar belum tahu kalau pembuatan paspor itu di kantor imigrasi. Selama ini cuma tahu, kantor gubernur, kantor kelurahan, kantor DPR, dekanat dan rektorat. Untuk instansi lainnya masih samar-samar fungsi dan manfaatnya buat kami.

Hasil penggalian mendalam terhadap orang tua dan sanak famili, ternyata nol besar. Meskipun kami berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia tetapi ternyata tidak satu pun keluarga kami yang memiliki paspor. Jalan buntu semakin besar dan kami pun bubar untuk sementara. Pencarian solusi pembuatan paspor masuk dalam kategori tingkat 1 alias penting banget.

Dan ternyata jawaban tersebut, diperoleh kala berkumpul di rumah salah satu teman yang numpang tinggal pada 'bude'nya. Suami 'bude' tersebut ternyata pegawai negeri di Semarang. Mendengar percakapan kami kala mengerjakan laporan, 'bude' teman ini pun menyempaikan kalau mau urus paspor yah tinggal datang ke kantor imigrasi Semarang. Lokasinya dekat dengan Simpang lima.

Jawaban ini, layaknya membuka gerbang pandora yang selama ini tidak ada kuncinya. "kantor imigrasi" adalah kunci utama gerbang pandora pembuatan paspor.

Terkadang memang, segala kesusahan jika terus-menerus dipikirkan bisa jadi jawabannya datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Bener nggak?

Tantangan Pembuatan Paspor

Tanpa berpikir lama, akhirnya kami membentuk perwakilan dua motor saling berbonceng untuk mernecanakan waktu kunjungan ke kantor imigrasi. Misinya cuma satu. Menggali informasi persyaratan pembuatan paspor.

Waktu dan tim sudah ditentukan, termasuk persiapan lainnya dalam menghadapi rute menuju kantor imigrasi. Kala itu Google Map masih jauh dari kata sempurna. Kami lebih memilih untuk bertanya ke warga lokal saat tersesat dibandingkan mengandalkan HP jadul polyponik. 

Emang sih, kuliah di Tembalang itu membukan banyak waktu untuk eksplor kota Semarang. Tapi sebagai mahasiswa, yang kami eksplor itu hanya sekadar lokasi-lokasi menarik seperti kampus Pleburan, Simpang Lima, MAJT, Sam Poo Kong, Lawang Sewu dan Kota Lama. Kalau yang lain mah lewat alias tidak terlalu familiar. Seperti kantor imigrasi Semarang.

Tapi karena kali ini wajib dan harus menemukan kantor imigrasi, makanya mau nggak mau kami harus menemukannya. Dua tim terdiri dari masing-masing 2 orang menggunakan sepeda motor melintasi jalur Tembalang-Ngesrep-Simpang Lima hanya demi mendapatkan informasi pembuatan paspor. Waktu tempuhnya, tidak terlalu lama. Kurang dari 1 jam, tim pun sudah menemukan kantor imigrasi. Bermodalkan bertanya ke warga lokal di sekitar lokasi.

Setibanya di kantor imigrasi, tim pun menjalankan aksinya. Bertanya ke satpam tentang maksud dan tujuannya. Tanpa berlam-lama. Pak Satpam mengarahkan ke bagian papan informasi terkait persyaratan pembuatan paspor antara lain:

  1. Kartu Tanda Penduduk
  2. Surat Keterangan Pembuatan Paspor
  3. Akta Lahir/ Ijazah Terakhir
  4. Formulir Pengajuan Pembuatan Paspor
Ternyata sesimpel itu persyaratan pembuatan paspor. Tim yang dataang pun, mengambil satu set formulir pengajuan pembuatan paspor berukuran kertas polio dan bisa di fotocopy. Misi pun berhasil

Akhir Semester yang Menarik

Waktunya pun tiba. Akhir semester, sang dosen kembali menanyakan pertanyaan yang sama kala awal semester 4.
"Siapa yang sudah memiliki paspor?". Semua mahasiswa yang hadir mengangkat tangan. Tanpa ragu-ragu, kami semua berhasil memiliki paspor dan berhasil menyelesaikan 'tugas teraneh semester tersebut'.
"Terima kasih semuanya. Kalian sudah berhasil sampai ke tahapan saat ini. Sekarang waktunya, buatlah rencana agar paspor kalian bisa digunakan dan mendapatkan stempel negara lain".
Duar. Kirain setelah pembuatan paspor, maka smuanya beres. Ternyata tugas utamanya baru muncul. Alamak. Bagaimana pula ini. Keluar negeri dengan paspor yang ada sekarang. 

Ternyata. Ini lah sisi menariknya. Sang dosen menganjarkan bagaimana hal yang dipandang sulit, tetapi jika dipikirkan dan direncanakan dengan baik maka bisa terselesaikan juga.

Konsep pengembangan diri dari pembuatan paspor ini bukan hanya sekadar membuat paspor saja, tetapi lebih besar dari itu. Sang dosen memberikan peluang dan wawasan akan cara pandang berbeda selama kuliah.

Pengembangan diri itu tidak harus dalam bentuk tugas monoton dan laporan tetapi bisa juga dalam bentuk studi kasus, dalam hal ini adalah pembuatan paspor dan berkembang mejadi bagaimana cara ke luar negeri.
Pertama kali ke luar negeri

Percaya nggak sih, bahwa mahasiswa yang mengurus segalanya dalam hal pembuatan paspor hingga merencanakan perjalanan ke luar negeri bakal jauh lebih percaya diri dibandingkan mereka yang hanya diam di kampus saja. Terbukti, bermodalkan paspor yang dibuat tersebut akhirnya saya pun  mendapatkan peluang untuk ke luar negeri yaitu Malaysia dan Singapura di semester 6. Semuanya karena hasil berburu beasiswa unggulan. 

Dulunya saya culun, kini jauh lebih percaya diri. Tahapan pembuatan paspor dan pengalaman berkunjung ke kampus di Malaysia membuat saya semakin yakin akan potensi diri yang wajib dan perlu untuk dikembangkan. Percaya deh.

Komentar